Hikmah esdenews.com,- Islam mengajarkan umatnya untuk mencari lingkungan yang baik dan suportif, serta menjauhi hal-hal yang merugikan, baik fisik maupun mental.
Ketika seseorang merasa tidak dihargai atau berada di lingkungan yang “toxic”, Al-Qur’an memberikan panduan yang mengarah pada tindakan untuk menjaga diri dan keimanan, yang bisa berarti berpindah atau keluar dari lingkungan tersebut.
Beberapa prinsip dan ayat Al-Qur’an yang relevan dengan situasi tersebut antara lain :
Pentingnya Memilih Teman dan Lingkungan yang Baik :
Al-Qur’an menyarankan untuk berhati-hati dalam memilih teman dan lingkungan. Seseorang dilarang berteman dengan orang yang tidak membuatnya berkembang atau merugikannya, sebagaimana isyarat dalam QS. Al-Furqan (25): 27-29 :
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا ٢٧
wa yauma ya‘adldludh-dhâlimu ‘alâ yadaihi yaqûlu yâ laitanittakhadztu ma‘ar-rasûli sabîlâ
” (Ingatlah) hari (ketika) orang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata, “Oh, seandainya (dahulu) aku mengambil jalan bersama rasul.
yang menceritakan penyesalan seseorang karena salah memilih teman.”
Larangan Merendahkan dan Menyakiti :
Al-Qur’an secara tegas melarang tindakan merendahkan, mengolok-olok, atau menyakiti orang lain, baik dengan perkataan maupun perbuatan (QS. Al-Hujurat 11) :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ١١
yâ ayyuhalladzîna âmanû lâ yaskhar qaumum ming qaumin ‘asâ ay yakûnû khairam min-hum wa lâ nisâ’um min nisâ’in ‘asâ ay yakunna khairam min-hunn, wa lâ talmizû anfusakum wa lâ tanâbazû bil-alqâb, bi’sa lismul-fusûqu ba‘dal-îmân, wa mal lam yatub fa ulâ’ika humudh-dhâlimûn
” Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim “.
(dan QS. Al-Ahzab: 58) :
وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنٰتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوْا فَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًا وَّاِثْمًا مُّبِيْنًاࣖ ٥٨
walladzîna yu’dzûnal-mu’minîna wal-mu’minâti bighairi maktasabû faqadiḫtamalû buhtânaw wa itsmam mubînâ
” Orang-orang yang menyakiti mukminin dan mukminat, tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, sungguh, mereka telah menanggung kebohongan dan dosa yang nyata “.
Jika suatu lingkungan secara konsisten melanggar prinsip-prinsip ini, maka lingkungan tersebut adalah lingkungan yang tidak sehat.
Menjaga Diri dari Kerusakan : Manusia diperintahkan untuk tidak menjatuhkan diri pada kerusakan. Jika bertahan di lingkungan yang tidak menghargai menyebabkan kerusakan pada kesehatan mental, emosional, atau keimanan, maka menjauh adalah tindakan yang dibenarkan.
Konsep Hijrah :
Dalam sejarah Islam, konsep hijrah (berpindah) adalah salah satu solusi ketika umat Muslim tidak dapat menjalankan ajaran agama atau menghadapi penindasan di suatu tempat. Ini menunjukkan bahwa meninggalkan lingkungan yang buruk demi kebaikan adalah bagian dari ajaran Islam.
Mencari Ketenangan Hati :
Al-Qur’an mengajarkan bahwa ketenangan hati ditemukan dengan mengingat Allah (QS. Ar-Ra’d: 28).
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ٢٨
alladzîna âmanû wa tathma’innu qulûbuhum bidzikrillâh, alâ bidzikrillâhi tathma’innul-qulûb
” (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram “.
Jika suatu lingkungan terus – menerus mengganggu ketenangan hati, Islam membolehkan seseorang untuk mencari tempat lain yang lebih kondusif.
Kesimpulan :
Secara tersirat, Al-Qur’an mendukung tindakan keluar atau menjauh dari lingkungan yang secara konsisten merugikan, menyakiti, atau tidak menghargai seseorang, terutama jika tindakan tersebut dilakukan untuk menjaga martabat, kesehatan mental, dan keimanan.
Hal ini sejalan dengan prinsip mencari kemaslahatan (kebaikan) dan menghindari kemudaratan (kerusakan) dalam Islam.***













